Penyetaraan Ijazah Perguruan Tinggi Luar Negeri: Mudah dan Gratis

Seperti disampaikan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dikti Kemendikbud, Illah Sailah, penyetaraan ijazah bukan merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh para lulusan luar negeri. Kecuali, disyaratkan oleh tempat kerja atau pengguna lulusan perguruan tinggi luar negeri. Penyetaraan ijazah ini, lanjutnya, juga bukan untuk menentukan apakah ijazah atau gelar yang diperoleh seseorang dalam menempuh pendidikan di luar negeri, diakui atau tidak. “Akan tetapi lebih kepada menentukan gelar yang diperoleh tersebut setara dengan ijazah jenjang pendidikan yang berlaku di Indonesia,” katanya.

Mengenai pelayanan yang diberikan, Illah menjelaskan bahwa birokrasi di tempatnya sebenarnya sangat mudah. Sebab, timnya hanya bekerja dan melakukan penilaian berdasarkan dokumen. Hanya saja, pemohon memang kerap tidak memahami dan merasa sudah sesuai prosedur. Padahal, ketika diminta bukti, ternyata tidak mampu menunjukkan. Bahkan ada, yang sudah lama lulus tetapi baru sekarang mengurus penyetaraan. Tentu saja kondisi demikian menyulitkan, karena kelengkapan seperti perizinan, paspor, dan lain-lain sudah berubah atau diganti. “Jika dokumen lengkap, maka proses akan mudah dan cepat. Namun jika tidak lengkap, kita juga sulit menentukan penyetaraannya,” kata Illah.

Agar bisa diproses, pemohon penyetaraan ijazah harus memenuhi beberapa persyaratan. Yang terpenting, tentu saja harus ada ijazahnya. Selain itu, juga sistem akademik, jumlah kredit yang diambil, masa studi, kualitas tugas akhir, dan masa tinggal di tempat pendidikan tersebut ditempuh. Jika sekolah dimaksud belum pernah menyetarakan, maka juga diperlukan katalog mengenai sekolah yang bersangkutan. Melalui katalog akan diketahui, bagaimana proses pembelajaran di sana. Termasuk transkrip, desertasi , thesis, dan skripsi atau project-nya.

Seluruh penilaian tersebut dilakukan oleh tim khusus dari perguruan tinggi, dengan beban kerja mencapai 25-30 berkas per orang/evaluasi. Agar proses penyetaraan tidak keliru dan sesuai dengan tingkatan pendidikan di negara asal ijazah tersebut dikeluarkan, Ditjen Dikti memiliki jaringan dengan beberapa negara. “Kita punya MoU-nya, bahwa tidak semua sarjana luar negeri bisa disetarakan dengan S1 di Indonesia. Hanya sarjana dengan grade 120, dan itu sudah menjadi kesepakatan bersama,” ungkap Illah.

Peningkatan Layanan

Sebagai unit pelayanan publik, peningkatan kualitas pelayanan harus selalu dilakukan. Begitu pula dengan Pelayanan Penyetaraan Ijazah Perguruan Tinggi Luar Negeri. Apalagi, setiap bulan, tak kurang sekitar 200-250 lulusan perguruan tinggi di luar negeri melakukan penyetaraan ijazah. Menyikapi hal ini, lanjut Illah, direktoratnya perlu melakukan perbaikan sistem agar proses penyetaraan ijazah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Berbagai Prosedur Operasi Baku (POB) juga telah dikembangkan dan diberlakukan agar proses evaluasi dan penyetaraan dapat dilakukan secara terukur. Beberapa perubahan sistem telah dilakukan, termasuk di dalamnya menentukan status penyetaraan secara online.

Sistem online dikembangkan agar proses pendaftaran dapat dilakukan lebih singkat. Melalui sistem ini, lulusan luar negeri dapat melakukan pendaftaran bagi penyetaraan ijazahnya di mana saja melalui internet. “Kami berharap agar sistem baru ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengguna untuk memberikan manfaat yang maksimal,” ujar Illah.

Mengenai prosedur permohonan penyetaraan ijazah online, masyarakat bisa melihat melalui alamat website http://ijazahln.dikti.go.id. Setelah itu pemohon bisa memonitor perkembangannya dengan mengakses website. Dengan demikian, waktu menjadi efektif, karena pemohon tidak perlu menunggu atau bolak-balik ke direktorat. “Biasanya prosesnya dua hari bagi lulusan dengan jenjang dan program studi yang telah disetarakan dan tujuh hari bagi yang belum disetarakan,” jelasnya.

Tetapi memang tidak hanya itu. Guna lebih meningkatkan pelayanan, maka dari sistem yang sudah terbangun, ke depan akan ditambahkan duobilingual (dua bahasa). Menurut Illah, hal ini dilakukan karena sekarang penyetaraan tidak hanya dilakukan orang Indonesia saja yang belajar ke luar negeri. Akan tetapi, lanjutnya, orang luar negeri pun banyak yang belajar ke Indonesia. “Dengan adanya duobilingual, orang luar tidak akan susah dalam membaca materi.

Mereka akan terlayani tanpa harus didampingi oleh orang kita,” ujarnya. Bukan hanya membangun sistem yang mumpuni dan mengembangkan inovasi. Guna kian memenuhi ekspektasi publik, iklim pelayanan yang baik juga ditanamkan. Kepada jajarannya, Illah selalu menekankan agar mereka selalu melayani dengan sepenuh hati. “Karena jika kita melayani dengan tidak baik, maka suatu saat akan merasakan bagaimana dilayani dengan tidak baik pula. Begitupun sebaliknya,” kata Illah.

Di sisi lain, Illah juga tidak menampik mengenai adanya praktik percaloan. Hal ini terjadi, karena untuk permohonan penyetaraan tidak harus datang sendiri tetapi bisa diwakilkan. Apalagi, di satu sisi pemohon datang dari seluruh wilayah Indonesia, sedangkan di sisi lain, layanan ini tidak memiliki perwakilan di daerah. Celah inilah yang dimanfaatkan para perantara tersebut, yang mengatasnamakan pegawai serta meminta sejumlah bayaran. “Padahal sudah jelas tertulis di laman kami, bahwa semua layanan tidak dipungut biaya apa pun,” kata Illah.

Guna meminimalisasi praktik seperti itu, maka pada saat pendaftaran, selain nama dan alamat, maka nomor telepon juga harus diisi. Setelah itu, maka kemudian menghubungi langsung pemohon melalui telepon. “Kami sampaikan mengenai standar prosedur layanan kami, termasuk tidak adanya pungutan biaya apapun. Kami juga sampaikan bahwa jika melalui perantara, maka seandainya nanti terjadi masalah, kami tidak akan bertanggung jawab,” katanya. Benar, memang tidak ada yang sulit. Sekali lagi, hanya dua hari!

sumber: http://acch.kpk.go.id/even-medsos/-/blogs/penyetaraan-ijazah-perguruan-tinggi-luar-negeri-mudah-dan-gratis;jsessionid=ABC5C3F7775C443D6FDCB89E927F0767